Tel: (021) 75791260 Email: helpdesk@bppt.go.id

FGD Penyusunan Platform Inovasi di Era Disrupsi Teknologi dan Pemetaan Tingkat Kesiapan Innovation 4.0 di Perguruan Tinggi

Pada tanggal 2 April 2019 bertempat di Hotel A-One Jakarta telah dilaksanakan Focus Discussion Group membahas penyusunan platform inovasi di era disrupsi teknologi dan pemetaan tingkat kesiapan Innovation 4.0 di perguruan tinggi. Acara  yang dibuka oleh Direktur PPIMTE Dr. Ir. Andhika Prastawa, MSEE, mengundang beberapa narasumber dan praktisi dari Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta, serta perwakilan dari Kementerian Ristekdikti. Tujuan penyusunan platform platform inovasi 4.O ini adalah untuk mendapatkan masukan-masukan terkait platform inovasi 4.O yang telah disusun oleh Tim Innovation 4.0. 

Susalit dalam paparannya menjelaskan bahwa era disrupsi teknologi telah memunculkan fenomena gangguan big-bang, yang menuntut adanya perubahan penentu langkah dari siklus produk bar. Dengan platform Innovation 4.0, Perguruan Tinggi diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang memiliki mind set menjadi disruption leader serta menghasilkan talent-talent yang dapat bermanfaat pada ekosistem inovasi. Dimana tidak lagi penerapan closed innovation tetapi open innovation. Sehingga, yang diharapkan dari platform tersebut mampu mengubah mind set. Kata kuncinya adalah ekosistem jaringan inovasi. Ketika persoalan mampu dapat diselesaikan dengan tepat dan efisien dengan bantuan talent dari luar. Sehingga akan lebih cepat untuk masuk ke pasar. Juga pada momentum yang tepat (sehingga dapat meminimalkan kegagalan). Ini yang disebut dengan open innovation.

Inovasi 4.0 lebih merupakan “pengubah permainan”, yang membawa open innovation ke tingkat berikutnya dengan membangun kepercayaan dan kolaborasi yang lebih besar antara pencari dan penyedia solusi. Selama ini, paten masih sektoral dan tertutup dengan yang lain. Sehingga mind set pertama adalah bagaimana Perguruan Tinggi untuk membuka diri.  Platform yang telah disusun (innov 4.0) terdiri dari 5 pilar (organisasi dan manajemen, suprastruktur, infrastruktur, proses R&D serta layanan dan produk), dengan 21 dimensi. Diharapkan ke depannya, potensi dapat diuangkap dengan banyaknya potensi dari para mahasiswa/lulusan untuk menjadi unicorn-unicorn. Dengan banyaknya disruptive leader maka dapat mewarnai industri manufaktur kita, pungkas Susalit dalam FGD tersebut.

Bambang Pujantyo praktisi yang juga Senior Advisor PT PNM VC menjelaskan bahwa terdapat 126 indikator WEF yang dikelompokkan dalam 12 pilar yaitu kelembagaan, infrastruktur, lingkungan makro ekonomi, pendidikan dasar dan kesehatan, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar barang, efisiensi pasar tenaga kerja, pengembangan pasar keuangan, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi. Dengan demikian maka untuk meningkatkan daya saing, terkait dengan 3 hal, yaitu :(1.) Kelembagaan, infrastruktur, tingkat pendidikan serta kesehatan masyarakat; (2.) Pendidikan tinggi dan pelatihan, dan kesiapan teknologi di tingkat nasional maupun perusahaan; dan (3.) Kecanggihan proses produksi di dalam perusahaan yang secara bersamaan menentukan tingkat inovasi suatu negara. Diakhir pemaparan beliau "mengusulkan agar sistem dan program pendidikan tinggi perlu disesuaikan agar relevan dengan revolusi   industri 4.0, antara lain rekonstruksi kurikulum".

Sementara Elidjen, Dirktur KM dan INovasi Universitas Binus mengungkapkan bahwa terdapat beberapa penelitian yang menghasilkan bahwa gap inovasi adalah banyak dana inovasi yang digulirkan, tetapi inovasinya gagal. Misalnya, infrastruktur ditambah, SDM ditambah, tetapi inovasinya tidak berhasil. Sehingga munculah The Accenture Innovation Maturity Indeks. Dengan demikian maka Innovation capability itu bisa dibentuk. sedang terkait dengan inovasi, Binus telah mempunyai Binus MOOC (Massive Open Online Courses). Beliau menyarankan bahwa Join collaboration adalah salah satu yang sangat mendukung inovasi.

Didit, peneliti Universitas Bakrie menambahkan bahwa inovasi dan kolaborasi sebenarnya tidak hanya dibutuhkan di perguruan tinggi saja. Tetapi juga di pemerintahan. Keberanian inovasi dengan keberanian untuk melakukan perubahan. Kita seharusnya dapat mendidik mahasiswa-mahasiswa yang menjadi inovator-inovator.Diperlukan leadership yang kuat dalam memimpin, pungkas dia.

 

Statistik Pengunjung

3.png7.png6.png6.png4.png
Today19
Yesterday81
This week546
This month358
Total37664

Facebook PPIMTE

Twitter PPIMTE

Instagram PPIMTE